Feeds:
Posts
Comments

Poso Bersatu

posoSetelah konflik yang sekian lama terjadi di poso,masyarakat poso pun yang ada di semua daerah di tanah air melakukan aksi turun ke jalan guna untuk menyuarakan aspirasi mereka.Mereka menuntut agar pemerintah lebih memerhatikan keadaan daerah mereka.Karena semakin lama kondisi poso semakin kian memprihatinkan.

Banyak manusia yang tak berdosa yang menjadi korban,itu semua karena kebiadaban manusia-manusia yang tak mengenal yang namanya peri kemanusiaan.Mereka lebih mengutamakan ego mereka.Tanpa menyadari bahwa apa yang mereka lakukan telah menyebabkan kejadian buruk di mana-mana,banyak anak-anak kecil kehilangan keluarga mereka,terutama mereka merindukan belaian hangat dari kedua orang tuanya yang telah tiada.Sungguh sangat menyedihkan sekali apa yang menimpa bangsa ini terutama saudara-saudara kita yang ada di sana.

Sebenarnya keamanan yang ada disana sudah dapat di katakan bagus,tapi masih belum dalam artian benar-benar bagus.Hal ini dapat dilihat dari kunjungan saya ke Poso pada bulan Mei danĀ  Juni 2009 lalu, yang ternyata masih ada beberapa persoalan, khususnya di antara para korban konflik dari dua komunitas yang saling mengedepankan kelompoknya.Misalnya saja,masih ada ketidaknyamanan di antara para pengungsi untuk kembali ke tempat asal.Beberapa penduduk masih memilih untuk tinggal di Tentena (suatu wilayah yang menjadi tujuan para pengungsi dari berbagai wilayah di Poso yang beragama Kristen yang terletak di dataran tinggi), daripada kembali ke tempat asal mereka karena alasan ketidaknyamanan dan ketakutan jika kembali ke tempat semula.

Selain itu,masih ada yang menyimpan rasa dendam terhadap para pelaku kekerasan. Beberapa aktivis kemanusiaan mengatakan kepada saya bahwa rekonsiliasi masih sulit untuk dilakukan karena masih ada korban yang menyimpan rasa marah ini. Sebagian dari mereka masih ingin menuntut balas atas kekerasan yang menimpa mereka dan keluarganya. Sesungguhnya, sesama korban dari kedua komunitas sudah dapat dan saling berinteraksi, tetapi para korban tersebut masih belum dapat berinteraksi dengan para pelaku kekerasan.

sejarah sulawesi tengah

peta sulteng

Wilayah provinsi Sulawesi Tengah, sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda, merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan di bawah kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.

Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda, dari Tujuh Kerajaan Di Timur dan Delapan Kerajaan Di Barat, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi, antara lain:

1. Poso Lage di Poso
2. Lore di Wianga
3. Tojo di Ampana
4. Pulau Una-una di Una-una
5. Bungku di Bungku
6. Mori di Kolonodale
7. Banggai di Luwuk
8. Parigi di Parigi
9. Moutong di Tinombo
10. Tawaeli di Tawaeli
11. Banawa di Donggala
12. Palu di Palu
13. Sigi/Dolo di Biromaru
14. Kulawi di Kulawi
15. Tolitoli di Tolitoli

Dalam perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian yakni:

1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah dibagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.

Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Kini berdasarkan pemekaran wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 10 daerah, yaitu 9 kabupaten dan 1 kota.

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, diantaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi obyek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi obyek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.

Lagu Dero

Lagu dero merupakan lagu khas atau merupakan suatu lagu daerah dari sulawesi tengah,yang lebih kita kenal berada diderah poso,lagu dero ini pun banyak di senangi oleh masyarakat baik dari daerah itu sendiri ataupun dari luar daerah sulawesi tengah yang telah mengenal lagu dan cara bergoyangnya itu.

Bagi mereka,lagu dero bukan hanya sebuah lagu dan goyangan,tetapi memiliki makna tersendiri.Menurut seorang warga sulawesi tengah yang umurnya sudah 54 tahun,dia mengatakan bahwa lagu dero adalah merupakan lagu perdamaian.